Rabu, 01 Juni 2011

PEMBARUAN DALAM ISLAM

PEMBARUAN DALAM ISLAM

Pendahuluan

Pendidikan islam sesunguhnya telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah islam yang telah diakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pebaruan yang dilakukakan secara terus menerus pascagenerasi Nabi Muhammad SAW, sehingga dalam perkembangan selanjutnya Pendidikan islam mengalami pembaruan

Sedikitnya ada lima fase yang bisa menjadi acuan dalam memahami dan menjelaskan priodesasi pendidikan islam.

1. Masa pembinaan pendidikan islam, kondisi pendidikan islam yang telah terjadi pada masa awal kenabian Muhammda

2. Masa Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, yaitu kondisi pendidikan islam ynag terjadi pada masa nabi Muhammad dan masa Khulafaurrasyidin.

3. Masa kejayaan pendidikan islam, suatu kondisi pendidikan islam yang banyak menggunakan dua pola pemikiran yang berbeda. Dari pola pemikiran trasidisional yang lebih banyak mendasar pada kekuatan wahyu, hingga pemikiran rasional yang lebih banyak mementingkan akal pikiran dan empiris. Kedua pola inilah yang menjadi faktor lain timbulnya masa kejayaan islam

4. Masa kemunduran pendidikan islam, suatu kondisi dimana keaadaan ummat islam lebih banyak bertumpu pada pemikira trasisional dan tidak lagi mau memnggunakan pola berpikir rasional yang telah diambil dari Barat. Kondisi ini terjadi pada abad VIII dan abad ke XIII M, pasca kehancuran Baghdat dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan islam ditangan Raja Hulagu dari Mongolia

5. Masa pembaruan atau masa modrenisasi pendidikan islam. Sebuah totalitas kesadaran kolektif ummat islam terhadap segala kekuarangan dan problematika yang dihadapi pendidikan islam untuk kemudian bisa diperbaiki dan diperbaharuai sepadan dengan kemajuan atau minimalnya bisa mengikuti perkembangan yang dilakukan Barat saat itu.

Sebagai sebuah rentetan pembahasan yang saling terkait satu sama lain, pembahasan makalah ini sesungguhnya lebih didasari pada upaya bagaimana kita memahami hal yang dimaksud dengan modrenisasi atau pembaruan dalam pendidikan islam, hal-hal apa saja yang melatar belakangi kemuduran pendidika islam, dan faktor-faktor yang elatar belakangai pembaruan perndidikan islam , serta bagaimana pola pembaruan islam.

Pengertian Pembaruan

Secara etimologis modrenisasi berasal dari kata modern yang telah baku menjadi bahasa Indonesia dengan artikata Pembaruan. Dalam masyarakat Barat “modrenisme” mengandung arti pemikiran, aliran, gerakan dan usaha-usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, agar semua sesuai engan pendapat-pendapat dan keadaan b aru yang ditimbulkan oleh ilu pengetauan dan teknologi modern. Lahirnya sebuah pembaruan disuatu tempat akan selalu beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat itu.

Pembaruan dapat diartikan apa saja yang belum dipahami, diterima, oleh dilaksaakan oleh penerima pemberuan, meskipun bukan hal baru lagi bagi orang lain. Pembaruan sesungguhnya lebih merupakan upaya atau usaha perbaikan keadaan, baik dari segi cara konsep, dan serangkaian metode yang bisa diterapkan dalam rangka mengantarkan keadaan lebi baik

Nurkoholis Madjid berpendapat bahwa modrenisasi sebagai rasionalisasi, yaitu proses perombakan pada pola berpikir dan dan tata kerja lama yang tidak rasional, dan menggantikannya dengan tata kerja baru yang rasional. Konstruksi berpikir seseorang yang sering menjadi acuan dalam adana perombakan gagasan, sering kali menjadi faktor penentu juga dalam rangka melahirkan proses pembaruan secara simultan.

Merujuk pengertian diatas, ada berbagai komponen yang menjadi ciri aktivitas dikatakan sebagai aktivitas pembaruan, antara lain

1. Pembaruan atau modrenisasi selalu mengarah pada upaya perbaikan secara simultan.

2. Dalam upaya melakukan suatu pembaruan akan meniscayakan pengaruh yang kuat adanya ilmu pengetahuan dan teknologi.

3. Upaya pembaruan biasanya juga dilakukan secara dinamis, inovatif dan progresif sejalan dengan perubahan cara berpikir seseorang.

Dengan demikian dapat dikaitkan bahwa pembaruan pendidikan Islam akan memberi pengertian bagi kita, sebagai suatu upaya melakukan proses peruabahan kurikulum, cara, metodologi, situasi, dan kondisi pendidikan islam dari yang tradisional kearah yang lebih rasional, dan propesional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengertian tersebut merupakan fakta empiris kalau pendidikan islam masih tradisional, lamban, statis dan masih belum mampu menyiapkan generasi yang handal dan juga belum siap menghadapi tuntutan zaman.

Latar Belakang Kemunduran Pendidikan Islam

Dalam sejarah peradapan islam selalu ada dua corak pemikiran yang selalu mempengaruhi cara berpikir umat islam, pertama pemikiran tradisionalis yang berciri sufistik dan kedua pemikiran rasionalis yang berciri liberal terbuka, inovatif dan konstrukif. Kedua corak itu pada masa kejayaan islam berpadu dan saling mengisi satu sama lainnya. Masyarakat tidak lagi mau membedakan yang mana akan dipelajari, yang jelas baik ilmu agama yang bersumber dari wahyu maupun ilmu pengetahuan yang bersumberkan nalar, mereka pelajari tanpa adanya dikotomi. Keduanya dijadikan sarana menggali ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum.

Kejayaan ini berlangsung cukup lama, sampai diangkanya seorang penguasa baru Abbasiyah yaitu al Mutawakkil yang melakukan pencabutan resmi terhadap Mu’tazilah sebagai suatu aliran resmi kenegaraan. Hingga masyarakan antipati terhadap gologan mu’tazilah, golongan yang gencar menyebarkan ajaran rasionalis. Sejak itu masyarakat tidak lagi mau medalami ilmu filsafat dan sains. Pemikiran logis dan ilmiah tidak lagi menjadi budaya berpikir masyarakat muslim sampai akhirnya pola berpikir rasional berubah menjadi berpikir traditional yang banayk dipengaruhi ajaran spiritual, takhayul dan kemujudan.

Kemunduran ummat islam sesungguhnya diawali sejak runtuhnya aliran Mu’tazilah, yang kemudian berakibat pada cara berpikir ummat islam yang tidak lagi rasional, tidak lagi mau mengganggap ilmu pengetahuan umum sebaga suatu kesatuan ilmu yang memiliki nilai guna. Hal tersebut diperburuk lagi dengan situasi kondisi poitik negeri islam yang tidak menentu, yang berakibat rapuhnya sistem pendidikan islam saat itu.

Hal-Hal Yang Melatarbelakangi Pembaruan Pendidikan Islam

Terpuruknya nilai-nilai pendidikan islam-sebagaimana diterangkan diatas sesungguhnya lebih dilatarbelakangi oleh kondisi internal islam yang tidak lagi menganggap ilmu pengetahuan umum sebagai suatu kesatuan ilmu yang harus diperhatikan. Sehingga pada proses selanjutnya ilmu pengetahuan lebih banyak diadopsi bahkan dimanfaatkan secara komperhensif oleh Barat yang pada waktu itu tidak pernah mengenal ilmu pengetahuan.

Kecanggihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan telah membuktikan Barat beberapakali menang melawan umat islam. Bahakan beberapa Negara islam telah dikuasa Barat. Inilah awal mula terjadinya kesadaran umat islam akan ketertinggalannya yang begitu jauh. Instrospeksi terus dilakukan oleh beberapa pembaru islam, untuk mencari solusi apakah yang harus diperbuat untuk mengembalikan kejayaan islam.

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya pembaruan islam

1. faktor kebutuhan pragmatis umat islam yang memerlukan sutau sistem pendidikan islam yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertaqwa dan beriman kepada Allah.

2. Agama islam sendiri melalui ayat suci Al-Qur’an banyak menyuruh atau menganjurkan umat islam untuk selalu berpikir dan bermetaforma : membaca dan menganaisis suatu untuk kemudian bisa menciptakan hal-hal baru dari apa yang dilihat.

3. Adanya kontak islam denga Barat, yang merupakan faktor terpenting juga yang bisa kita lihat. Adanya kontak ini menggugah dan membawa perubahan pragmatic umat islam untuk belajar terus menerus, sehingga ketertinggalan selama ini bisa diminimalisir bahkan bisa mengimbangi mereka.

Pola Pembaruan Pendidikan Islam

1. Pola pembaruan islam yan berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat, yang kemudian dikenal dengan gerakan modrenis

2. Pembaruan pendidikan islam yang berorientasi pada tujuan pemurnian kembali ajaran islam

Pertama, golongan yang berorientasi pada pola modern berpandang bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang diakui oleh Barat adalah dengan mendirikan sekolah-sekolah ala Barat, baik sistem maupun isi pendidikannya. Disamping untuk memajukan sistem pendidikan islam-banyak juga pelajar yang dikirim ke Eropa untuk menguasai ilmu-ilmu sains dan teknologi modern.

Kedua, golongan yang berorientasi pada pembaruan pendidikan islam yang bersumber islam yang murni. Bagi mereka terjadinya kemunduran pendidikan islam lebih disebabkan oleh ketidaktaatan kaum muslimin menjalankan ajaran islam menurut semestinya. Pola ini berpendapat bahwa sesungguhnya islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkebangan pereadaban serta ilmu pengetahuan modern, dalam hal ini islam telah membuktikan kejayaan pada masa silam. Bagi kelompok ini, adanya kemajuan peradapan dan ilmu pengetahuan yang pernah dialami ummat islam seharusnya menjadi referensi atau bahkan sandaran kalau sesungguhnya islam sendiri, melalui ajarannya yakni Al-Qur’an dan Hadist bisa memajukan ummatnya tanpa harus berkiblat pada Barat. Justru kita harus melihat masa-masa silam kejayaan ummat islam, bukan malah memalingkan atau sama sekali tidak mau melihat kebelakang. Demikianlah pendapat kelompok tradisionalis.

Tokoh dan Sasaran pembaruan pendidikan islam

Menurut sebagian tokoh-tokoh pembaru islam, salah satu kemunduran ummat islam adalah karena merosotnya kualitas pendidikan islam untuk itu perlu mengembalikan kekuatan pendidikan islam sebagai penyangga kemajuan ummat islam sehingga nati akan bermunculan gagasan-gagasan tentang pembaruan pendidikan islam yang diikuti dengan pelakasanaan perubahan penyelenggara.

1. Wilayah turki

Faktor yang melatar belakangi gerakan pembaruan pendidikan bermula dari kekalahan-kakalahan Kerajaan Usmani dalam peperangan dengan Eropa. Adapun tokoh yang mencoba melakukan upaya pembaruan adalah Sultan Ahmad III.

Akibat kekalahan-kekalahan yang dialami Kerajaan Turki menyebabkan Sultan Ahmad III melakukan instrospeksi. Untuk itu timbullah sikap arif pada kerajaan turki terhadap keberadaan Barat. Barat tidak lagi dianggap sebagai musuh yang harus dijauhi. Menurut Sultan Ahmad III bila ummat islam ingin maju, maka harus menghargai dan menjalin kerja sama untuk mengejar ketertinggalan islam dengan barat.

Langkah pertama yang diambil adalah melakukan pengiriman duta-duta ke Eropa untuk mengamati keunggulan Barat; selanjutnya menyampaikan hasil penelitian kepada sultan. Salah satu implikasi dari adanya penelitian tersebut munculnya ide dari sultan untuk mendirikan sekolah Teknik Militer yang mengajarkan taktik, srtratgi, serta teknik mhuan dengan mendirikan percetakaniliter.

Selain militer, turki mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara mendirikan percetakan di Istanbul pada tahun 1727 M, untuk mempermudah akses buku-buku pengetahuan, mencetak buku kedokteran, ilmu pasti, astronomi, sejarah, hadist, fiqh dan tafsir. Selain itu beliau mendirikan lembaga terjemah yang bertugas menterjemahkan buku-buku dalam bahasa Turki.

2. Wilayah Mesir

Tokoh yang mencoba melakukan pembaruan adalah Muhammad Ali Pasya. Dia disebut juga pelopor pembaruan dan bapak pembaruan mesir modern. Walau tidak mampu membaca dan menulis, Muhammad Ali pasya sangat menyadari pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi kemajuan bagsa. Dalam pemerintahannya, Ia mendirikan kementrian pendidikan dan lembaga-lembaga pendidkan, membuka sekolah tekhnik, sekolah kedokteran, sekolah pertambangan, sekolah pertanian dan sekolah penerjemahan. Tata cara yang Ia lakuakan banyak diadopsi dari tata cara barat.

Ali Pasya juga mengirim pelajar-pelajar untuk belajar ke Italia, Prancis, Inggris dan Austria. Bahakan menurut Pilip K. Hitti antara tahun 1823-1844, sekita 311 pelajar yang dikirim ke Eropa. Jumlah yang begitu banyak yang belum pernah dilakukan pembaharu-pembaharu yang lain.

3. Wilayah India

Berbeda dengan Turki dan Mesir, pembaruan yang dilakukan di India bertujuan untuk menghilangkan diskriminasi pendidikan tradisionalis dengan pendidikan sekuler. Pembaruan ini dilatar belakangi minimnya jumlah ummat muslim, yang jumlahnya hanya sepertlima ummat Hindu di India. Maka dari itu untuk mengangkat harkat dan martabat ummat islam perlu dilakukan pembaruan pendidikan islam.

Adapun yang menjadi tokoh pembaruan di India adalah Sayyid Akhmad Khan (1817-1898), ia berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat islam di India dapat diwujudkan hanya bekerja sama dengan Inggris.

Salah satu masalah di India adalah rendahnya mutu pendidikan. Menurutnya mutu pendidikan ummat islam akan lebih meningkat jika diterapkan dengan sistem modern, oleh sebab itu ia mendirikan beberapa sekolah yaitu sekolah Inggris Muradaab pada tahu 1860 M. pada tahun 1864 ia mendirikan Scientific Society untuk memperkenalkan Sains barat, khususnya pada ummat musim india. Pada tahun yang sama ia juga mendirikan sekolah Modren Ghazipur.

Seperti halnya kekhawatiran pembaru slam diwilayah lain akan adanya kesenjangan antara lembaga pendidikan agama dan sekolah inggris, maka Sayyid Akhmad Khan mendirikan lembaga pendidikan yang mengajarkan pendidikan umum dan pendidikan Agama. Lembaga pendidkan tersebutdikenal dengan nama Muhammedan Anglo Oriental College pada tahun 1878.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas pemakalah dapat mengambil beberapa catatan sebagai berikut :

1. Adanya upaya pembaruan pendidikan islam tentunya tidak lepas dari lemahnya kondisi pendidikan islam saat itu, yang mengaruskan para pembaru islam bisa menghadirkan suatu paket pendidkan yang sesuai dengan tuntutan zaman, sarat dengan kepentingan IPTEK dan bisa diterima masyarakat.

2. Satu diantara penyebab kemunduran islam ialah karena lemahnya sisi rasionalitas ummat islam yang berakibat tidak pekanya masyarakat terhadap kepentingan ilmu umum

3. Upaya pembaruan yang telah dilakukan beberapa tokoh pembaharu, sesungguhnya lebih ditunjukan kepada sasaran pendidikan yang tertentu disesuaikan dengan ide pembaruan mereka. Misalnya Sultan Amad III menanamkan sikap yang awalnya anti Barat menjadi proses kerja sama, kemudian mendirikan percetakan untuk memudahkan mendapatkan akses pengetauan serta mendirikan sekolah militer modern.

RANGKUMAN MATERI

A. Fase yang menjadi acuan dalam memahami dan menjelaskan priodesasi pendidikan islam.

· Masa pembinaan pendidikan islam, kondisi pendidikan islam yang telah terjadi pada masa awal kenabian Muhammda

· Masa Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam, yaitu kondisi pendidikan islam ynag terjadi pada masa nabi Muhammad dan masa Khulafaurrasyidin.

· Masa kejayaan pendidikan islam, suatu kondisi pendidikan islam yang banyak menggunakan dua pola pemikiran yang berbeda. Dari pola pemikiran trasidisional yang lebih banyak mendasar pada kekuatan wahyu, hingga pemikiran rasional yang lebih banyak mementingkan akal pikiran dan empiris. Kedua pola inilah yang menjadi faktor lain timbulnya masa kejayaan islam

· Masa kemunduran pendidikan islam, suatu kondisi dimana keaadaan ummat islam lebih banyak bertumpu pada pemikira trasisional dan tidak lagi mau memnggunakan pola berpikir rasional yang telah diambil dari Barat. Kondisi ini terjadi pada abad VIII dan abad ke XIII M, pasca kehancuran Baghdat dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan islam ditangan Raja Hulagu dari Mongolia

· Masa pembaruan atau masa modrenisasi pendidikan islam. Sebuah totalitas kesadaran kolektif ummat islam terhadap segala kekuarangan dan problematika yang dihadapi pendidikan islam untuk kemudian bisa diperbaiki dan diperbaharuai sepadan dengan kemajuan atau minimalnya bisa mengikuti perkembangan yang dilakukan Barat saat itu.

B. Pengertian Pembaruan

· Pembaruan atau modrenisasi selalu mengarah pada upaya perbaikan secara simultan.

· Dalam upaya melakukan suatu pembaruan akan meniscayakan pengaruh yang kuat adanya ilmu pengetahuan dan teknologi.

· Upaya pembaruan biasanya juga dilakukan secara dinamis, inovatif dan progresif sejalan dengan perubahan cara berpikir seseorang

C. Latar Belakang Kemunduran Pendidikan Islam

Pada masa Penguasa Baru Abbasiyah yaitu al Mutawakkil yang melakukan pencabutan resmi terhadap Mu’tazilah sebagai suatu aliran resmi kenegaraan. Hingga masyarakan antipati terhadap gologan mu’tazilah, golongan yang gencar menyebarkan ajaran rasionalis. Sejak itu masyarakat tidak lagi mau medalami ilmu filsafat dan sains. Pemikiran logis dan ilmiah tidak lagi menjadi budaya berpikir masyarakat muslim sampai akhirnya pola berpikir rasional berubah menjadi berpikir traditional yang banayk dipengaruhi ajaran spiritual, takhayul dan kemujudan.

D. Hal-Hal Yang Melatarbelakangi Pembaruan Pendidikan Islam

· Faktor kebutuhan pragmatis umat islam yang memerlukan sutau sistem pendidikan islam yang betul-betul bisa dijadikan rujukan dalam rangka mencetak manusia-manusia muslim yang berkualitas, bertaqwa dan beriman kepada Allah.

· Agama islam sendiri melalui ayat suci Al-Qur’an banyak menyuruh atau menganjurkan umat islam untuk selalu berpikir dan bermetaforma : membaca dan menganaisis suatu untuk kemudian bisa menciptakan hal-hal baru dari apa yang dilihat.

· Adanya kontak islam denga Barat, yang merupakan faktor terpenting juga yang bisa kita lihat. Adanya kontak ini menggugah dan membawa perubahan pragmatic umat islam untuk belajar terus menerus, sehingga ketertinggalan selama ini bisa diminimalisir bahkan bisa mengimbangi mereka.

E. Pola Pembaruan Pendidikan Islam

· Pola pembaruan islam yan berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat, yang kemudian dikenal dengan gerakan modrenis

· Pembaruan pendidikan islam yang berorientasi pada tujuan pemurnian kembali ajaran islam

F. Tokoh dan Sasaran pembaruan pendidikan islam

4. Wilayah Turki : Sultan Ahmad III.

5. Wilayah Mesir : Muhammad Ali Pasya

6. Wilayah India : Sayyid Akhmad Khan

DAFTAR PUSTAKA

Suwito dan Fuzan. 2004. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana

Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam, Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: kencana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar